Rabu, 24 September 2014

Seputar Assassin's Creed Di Asia

10 Setting Sejarah Indonesia Terbaik untuk Plot Assassin’s Creed




History is written by the victors”, ungkapan dari Winston Churchill ini memang menjadi salah satu kenyataan pahit yang mendefinisikan bagaimana dunia terbentuk. Mereka yang menang perang biasanya memiliki kesempatan besar untuk kenyataan yang terjadi di medan pertempuran dan tentu saja, semua latar belakang yang mendasari setiap keputusan yang membuat ribuan nyawa dan harta benda melayang. Namun bukan mereka yang menang perang saja yang memiliki kemampuan ini. Imajinasi yang ditawarkan oleh industri kreatif, termasuk industri game, juga seringkali menjadikan sejarah sebagai salah satu nilai jual utama. Modifikasi dan adaptasi cerita karakter utama ke dalam menghasilkan sebuah franchise menarik, yang tidak hanya kuat di sisi gameplay tetapi juga plot. Salah satu yang paling berhasil melakukannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Assassin’s Creed dari Ubisoft.
Memasuki seri keempatnya, Ubisoft memang sudah menyuntikkan begitu banyak sejarah dengan latar belakang cerita yang berbeda-beda untuk franchise ini. Dari Altair sebagai sang legenda dari Syria, Ezio dari Italia, Connor dari Amerika, dan yang terbaru – Edward yang akan mengarungi luasnya laut Mediterania. Semuanya memasuki ranah sejarah, menyuntikkan modifkasi elegan untuk memasuki karakter mereka dapat berperan di dalamnya, yang kemudian berujung pada kualitas yang pantas untuk diacungi jempol. Tentu saja, banyak gamer, di Indonesia khususnya, bahwa sejarah Nusantara yang kaya juga suatu saat akan mampu mendapatkan proses yang sama. Walaupun kecil kemungkinan akan dilirik, namun bukan berarti kita tidak dapat berandai-andai dan berimajinasi tentang skenario seperti apa yang bisa disuntikkan. Oleh karena itulah, Jagat Play menganalisa dan memilih 10 setting sejarah Indonesia terbaik yang bisa dijadikan sebagai plot untuk Assassin’s Creed.
Sebagai catatan, sebagai sesuatu yang imaginatif, tulisan ini tentu saja tidak dibuat untuk mendukung teori konspirasi atau pihak tertentu yang perannya memang besar dalam membentuk Indonesia seperti yang kita kenal. Tulisan ini juga tidak dibuat untuk mengecilkan atau membesarkan pihak manapun, semata-semata untuk kepentingan semata. Jangan melihatnya sebagai usaha untuk menciptakan teori konspirasi baru yang tidak masuk akal. It’s just for fun..
Jadi, dari semua peristiwa sejarah penting yang terjadi di Indonesia, inilah 10 terbaik yang kami anggap mampu menghasilkan sebuah game Assassin’s Creed yang berkualitas.

10. National Indische Partij – Peran Douwes Dekker


Anda yang familiar dengan franchise Assassin’s Creed tentu sudah familiar dengan sisi cerita yang selalu menjadikan tokoh sejarah ikonik sebagai side-kick dari sang karakter utama. Untuk mencapai sisi idealis yang lebih maju, tidak jarang tokoh ikonik sejarah ini justru berasal dari kelompok yang tengah dilawan oleh sang karakter utama. Keberanian dan radikalisme untuk berjuang mempertahankan sebuah dunia ideal yang tampaknya cocok untuk diperankan oleh Douwes Dekker – tokoh Belanda yang bergabung dalam Tiga Serangkai untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Skenario: Bayangkan jika Anda menjadi seorang Assassin, terlebih lagi seorang Keturunan Belanda – Indonesia yang berjuang untuk hak asasi rakyat Indonesia atas kemerdekaan. Selain berjuang secara fisik, Anda menyerahkan peran politik kepada sang Douwes Dekker. Anda berjuang secara fisik dan bergerilya sembari membunuh jenderal-jenderal penting, sementara Douwes Dekker berjuang dari sisi pendidikan dan politik. Bersama dengan Ki Hajar Dewantara dan Dr. Tjipto Mangukusumo, Anda akan seringkali berdiskusi bersama, merencakan langkah strategis apa yang perlu dilakukan untuk memastikan kemerdekaan. Beberapa misi akan menuntut Anda untuk melindungi mereka dari berbagai ancaman dari Belanda, yang notebene bisa diposisikan sebagai Templar di skenario kali ini.

9. Reformasi Mei 1998


Sebagian besar dari Anda yang membaca tulisan ini adalah saksi sejarah, yang dengan mata kepala sendiri melihat keruntuhan dari sebuah regime kekuasaan yang yang sudah bertahan puluhan tahun. Gerakan mahasiswa dan pemuda dari berbagai golongan yang menuntut reformasi birokrasi telah berhasil merontokkan tampuk kepemimpinan yang dikala itu dianggap korup dan tidak memihak rakyat. Namun perjuangan ini sendiri harus dibayar mahal. Selain kerusuhan yang telah menghancurkan materi, beberapa kasus penculikan mahasiswa juga belum terselesaikan bahkan hingga saat ini. Lantas, skenario seperti apa yang bisa dibangun dari tragedi memilukan ini?
Skenario: Bayangkan seorang Assassin sedang memerhatikan demonstrasi massal yang tengah terjadi di jalan-jalan protokol ibukota, sembari memastikan tidak ada yang berjalan buruk. Seorang mahasiswa yang secara tidak sengaja  menemukan jati dirinya sebagai seorang Assassin berjuang untuk mempertahankan nilai organisasi yang menggawanginya, berjuang melawan sebuah regime kekuasaan yang memaksakan ketertaturan. Berjuang di bawah bendera yang sama, ia berhasil merekrut anggota Assassin yang lain dan menggerakkan massa. Namun sayangnya, pihak Templar yang diwakili oleh penguasa ternyata mengetahui jati diri mereka. Satu per satu Assassin yang ia percaya pun diculik. Sang Assassin berjuang selama periode ini untuk mencari dan menyelamatkan kembali mereka, namun sayangnya, gagal.

8. Peristiwa Rengasdengklok


Perbedaan persepsi lah yang membuat penculikan terhadap para proklamator – Soekarno dan Hatta terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945. Kelompok muda yang digawangi oleh Soekarni, Wikana, dan Chaerul Saleh mendesak percepatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan menuntut untuk dilakukan tanpa keterlibatan PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Walaupun didera dengan paksaan, Soekarno dan Hatta tetap bersikukuh untuk “memerdekakan” Indonesia keesokan harinya, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.
Skenario: Alih-alih melihat Soekarni, Winata, dan Saleh sebagai anggota pemuda belaka, alangkah kerennya jika mereka termasuk salah satu anggota Assassin yang memang bertugas untuk mengawasi proses kemerdekaan Indonesia. Berdasarkan pada instruksi Anda – seorang Master Assassin misterius yang berperan besar di belakang layar, Soekarno dan Hatta berhasil “diculik” dan diselamatkan dari rencana pembunuhan yang sempat tercetus oleh pihak penjajah Jepang. Diskusi berkepanjangan dengan Soekarni, Winata, dan Saleh akhirnya melahirkan ide untuk membawa kedua proklamator ini ke Rengasdengklok dengan keamanan yang tentu saja ditingkatkan.

7. Perang Gerilya Bersama Jenderal Soedirman


Soedirman adalah salah satu jenderal terbaik di Indonesia, yang tidak hanya mendapatkan pengakuan atas taktik gerilya-nya yang terhitung efektif untuk melawan Belanda, tetapi juga atas kegigihannya untuk terus bertempur walaupun sedang berada dalam kondisi sakit. Salah satu yang menarik untuk dieksploitasi dari cerita Soedirman adalah fakta bahwa ia selalu diikuti oleh para pasukan setianya kemanapun ia berada. Sakit dan mampu menaklukkan pasukan dengan senjata yang lebih modern? Misteri inilah yang bisa digunakan sebagai dasar plot.
Skenario: Anda adalah seorang Assassin yang berjuang bersama dengan Jenderal Soedirman secara bergerilya. Tidak hanya membantu sang sosok ikonik ini untuk menghabisi orang-orang penting Belanda untuk kebutuhan strategi tertentu, tetapi juga berdiskusi tentang jalur gerilya dan melatih para prajurit yang ikut bertempur bersama agar dapat menyerang dan membunuh secara efektif. Kesan dramatis bisa dimunculkan dengan mengeksploitasi hubungan dekat antar Soedirman dan karakter Assassin Anda yang melihatnya tak ubahnya sosok seorang ayah. Bertempur bersama dan melihat orang yang dikasihi terus berjuang tanpa lelah? Ini akan menjadi resep yang mujarab untuk menghasilkan sisi plot yang emosional.

6. Ramalan Jayabaya

Prediksi akan kehancuran dunia, ini memang menjadi fokus cerita dari Desmond yang harus mengakses memori tiga leluhurnya untuk mempelajari hal tersebut. Walaupun berhubungan erat dengan teknologi makhluk asing yang sudah menunjukkan eksistensinya jauh sebelum manusia pertama berbudaya, namun inti cerita inilah yang menjadi benang merah untuk kehadiran tiga seri awal Assassin’s Creed. Hal yang sama sebenarnya juga bisa diterapkan di Indonesia yang ternyata, juga memiliki kisah yang tidak berbeda. Salah satu yang paling terkenal tentu saja adalah Ramalan Jayabaya, yang masih seringkali digunakan bahkan hingga saat ini.
Skenario: Berperan sebagai seorang Assassin muda yang mempertanyakan eksistensi dirinya dan organisasi yang ia lindungi, Anda akan mengarungi Animus untuk mencari alasan di balik semua pertempuran melawan para Templars di Indonesia. Petualangan membawa Anda pada masa ketika Jayabaya ketika ia menuliskan ramalannya yang terkenal. Lewat kacamata Raja Kediri inilah, Anda bertemu dengan para gelombang peradaban pertama layaknya Desmond, yang meminta Anda (Jayabaya) untuk mempersiapkan diri dari sebuah akhir yang mungkin akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi. Bingung dengan penampakan ini, Jayabaya kemudian menulis dan mendeksripsikan apa yang ditunjukkan oleh peradaban pertama padanya, dan bagaimana para Assassin akan memainkan peranan penting di dalamnya. Ketika Anda kembali ke diri Anda di masa depan, Anda akan mulai berjuang untuk mencari salinan Ramalan yang sudah terkubur ini, semata-mata untuk mengetahui apa yang sebenarnya yang harus Anda lakukan.






Novel Assassin’s Creed: Revelations, Akhir Perjalanan Panjang Ezio Auditore


Tidak banyak gamer yang gemar membaca novel, tapi pasti banyak gamer yang tergiur melihat novel Assassin’s Creed: Revelations. Ini merupakan novelisasi dari game berjudul sama, nomor terakhir dari seri Ezio Auditore. Dengan harga Rp79.900,00, edisi bahasa Indonesianya baru saja diterbitkan oleh Ufuk Fiction (cabang Ufuk Press) 7 Januari 2013 lalu.
Revelations merupakan novel keempat dari seri Assassin’s Creed yang diterbitkan di Indonesia (semua ditulis oleh Oliver Bowden dan diterjemahkan oleh Melody Violine). Riwayat Ezio pada Renaissance dan Brotherhood sempat diselingi oleh kisah Altaïr dalam The Secret Crusade (terbit pertengahan 2012). Pada akhir cerita Brotherhood, Ezio berpisah dari dua sahabatnya, Machiavelli dan Leonardo da Vinci. The Secret Crusade memberi tahu kita ke mana Ezio pergi sesudah itu, yaitu Konstantinopel, tapi Ezio hanya tampil membaca jurnal yang mengisahkan riwayat Altaïr, pendahulunya dari Suriah. Dari situ Ezio mengetahui bahwa Altaïr membuat perpustakaan besar di Benteng Masyaf, maka Revelations merupakan perjalanan Ezio untuk membuka kembali perpustakaan yang menyimpan pengetahuan terbesar Ordo Assassin.
Seperti novel-novel sebelumnya, cerita berjalan linier tanpa bergantian dengan zaman modern sebagaimana di dalam versi game. Gamer yang sudah menamatkan game Revelations tentu tahu bahwa Ezio bertemu Desmond di perpustakaan Altaïr. Bagaimana dengan versi novelnya?
Keadaan fisik Ezio yang sudah berumur mungkin tidak kentara di video game-nya, tetapi lain halnya di dalam novel. Pembaca dapat merasa ketar-ketir sekaligus takjub dengan bagaimana Ezio dapat mengatasi penurunan stamina dan ketangkasannya. Pengalaman dan kecerdikan berperan besar dalam aksi Ezio menerobos dan kabur seorang diri dari Benteng Masyaf yang dikuasai Templar.
Perbedaan lain yang menonjol antara versi game dan novel adalah perasaan Ezio tergambar jelas di novel ini. Tidak seperti Altaïr yang memang dididik untuk menjadi Assassin sejak kecil, Ezio dibesarkan sebagai anak bangsawan yang hidup damai. Dia merindukan itu semua dan ingin berkeluarga, tapi dia bertekad menuntaskan tanggung jawabnya terlebih dulu bagi Ordo yang dipimpinnya.
Masa pensiun Ezio diceritakan pula di dalam novel Revelations. Sama dengan film animasi pendek Assassin’s Creed: Embers dan edisi khusus game Revelations, tamu tak diundang (Shao Jun) mengusik kedamaian Ezio bersama keluarganya di Tuscan. Sofia (istri) serta Marcello dan Flavia (anak-anak) terpaksa diungsikan sementara Ezio dan sang tamu dari negeri timur ini menghadapi musuh-musuh yang mengikutinya. Sebagai nomor penutup, mungkin saja kejadian ini mengakhiri hayat sang Master Assassin.
Seraya menunggu kabar-kabar perkembangan film layar lebar Assassin’s Creed, mari kita bernostalgia dulu dengan membaca novel ini. Novel selanjutnya, Assassin’s Creed: Forsaken, sudah diterbitkan oleh ACE Books dan sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apabila ada usul agar buku-buku Assassin’s Creed lain diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia, bisa disampaikan kepada akun twitter @ufukita.

Game Assassin’s Creed Selanjutnya Angkat Karakter Wanita dari China!

Assassin's Creed Chronicles: China
Ubisoft saat ini memang tengah menyiapkan dua game Assassin’s Creed (AC) yang siap dirilis bulan November mendatang. Satu game, AC Unity untuk konsumsi pemilik Xbox One, PS4 dan PC, serta satu game lainnya, AC Roguedikhususkan untuk para pemilik Xbox 360 dan PS3. Selain menyiapkan dua game tersebut, rupanya Ubisoft juga menyiapkan satu game AC lain dengan genre side scrolling berjudul AC Chronicles: China! Sesuai dengan namanya, kamu akan diajak untuk menjelajahi China abad ke-16 dengan mengangkat karakter utama seorang assassin wanita bernama Shao Jun.
Assassin's Creed Chronicles: China Gameplay
Merasa tidak asing dengan nama Shao Jun? Ya, bagi yang sudah mengikuti seri AC sejak kemunculan perdananya tahun 2007 lalu, nama Shao Jun mungkin masih segar di ingatanmu. Shao Jun adalah salah satu murid dari Ezio Auditore, karakter utama dalam AC II, AC Brotherhood dan AC Revelations. Shao Jun sendiri sempat muncul dalam film animasi pendek AC Embers, yang mengisahkan event setelah selesainya petualangan Ezio dalam AC Revelations.
Assassin's Creed Chronicles: China
Seperti yang sudah saya tuliskan di paragraf pembuka artikel ini, game ini akan berbeda dengan kebanyakan gameAC lainnya karena dipresentasikan dalam gaya grafis 2.5D dan ber-genre side scrolling. Kamu akan mengikuti petualangan Shao Jun yang hidup di China abad ke-16 dan dikisahkan kembali ke China bersama dengan assassin lain dari Chinese Brotherhood untuk menyelamatkan negerinya. Untuk mengembangkan game ini, Ubisoft dibantu oleh Climax Studios, studio yang sebelumnya pernah mengembangkan Silent Hill: Shattered Memories untuk PS2, Wii dan PSP.
duniaku-acchina-4
Genre side scrolling sendiri sebenarnya tidak asing dalam sejarah game AC. Sebelumnya, Ubisoft juga pernah merilisAC Discovery untuk NDS yang memiliki genre serupa. Meskipun genre-nya menjadi side scrolling, namun kamu tetap bisa melakukan gerakan-gerakan khas assassin, seperti melakukan parkour di Tembok Besar China dan membunuh musuh secara diam-diam. Dalam pernyataan resminya, Ubisoft mengungkapkan bahwa gaya grafis dari game ini terinspirasi dari goresan lukisan khas China, lengkap dengan arsitektur-arsitektur sejarahnya. Shao Jun sendiri selain memiliki kemampuan khas assassin serta senjata baru seperti Jian Sword dan Foot Blade, juga memiliki kemampuanmartial arts yang jarang ditemui di assassin lainnya.
Namun sayang, untuk saat ini AC Chronicles: China hanya dirilis bersamaan dengan AC Unity dan merupakan satu bagian dalam Season Pass-nya. Artinya, kamu hanya bisa mendapatkan game ini jika kamu membeli Season Pass-nya saja. Selain berisi AC Chronicles: China ini, jika kamu membeli Season Pass dari AC Unity kamu juga akan mendapatkan satu DLC Dead Kings yang akan melanjutkan kisah dari AC Unity. Dalam Dead Kings, kamu akan mengikuti perjalanan Arno yang meninggalkan Paris dan menuju Saint Denis untuk menyelidiki peristiwa misterius yang terjadi di kota tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar